Kelompok Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 54 Universitas Brawijaya (UB) melaksanakan program kerja kolaborasi melalui Program Pojok TOGA, KASIH TOGA, dan Pelatihan Pengolahan Eco Enzyme di Desa Gendong Kulon, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang menggabungkan edukasi kesehatan, pengelolaan limbah organik, dan penghijauan lingkungan sebagai upaya mendukung terciptanya desa yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas fakultas, yaitu Muhammad Badris Salam dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) sebagai penanggung jawab Program Pojok TOGA, Alfi Tri Hindyantri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) bersama Aimmatus Sa’Dyah Agustin sebagai penanggung jawab Program KASIH TOGA, serta mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB angkatan 2024 sebagai penanggung jawab pelatihan pengolahan Eco Enzyme. Ketiga program tersebut dirancang saling melengkapi agar masyarakat memperoleh pengetahuan sekaligus pengalaman praktik yang dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan diawali dengan Program KASIH TOGA yang memberikan edukasi mengenai Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Dalam sesi ini masyarakat diperkenalkan pada berbagai jenis tanaman obat, manfaatnya bagi kesehatan, teknik budidaya, hingga peluang pengembangannya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Tim MMD juga memperkenalkan Wedang Secang sebagai salah satu contoh produk olahan berbahan dasar tanaman herbal yang mudah dibuat dan berpotensi menjadi produk unggulan masyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan Eco Enzyme menggunakan limbah organik rumah tangga. Masyarakat diajak memahami manfaat Eco Enzyme sebagai cairan multifungsi yang dapat digunakan sebagai pupuk organik, pembersih alami, hingga pengurai limbah organik. Pada sesi praktik, peserta secara langsung mencampurkan air, gula merah sebagai molase, serta limbah organik berupa kulit buah dan sisa sayuran ke dalam galon sebagai media fermentasi. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal kegiatan, ditandai dengan tingginya partisipasi warga dalam mengikuti praktik dan berdiskusi mengenai pemanfaatan Eco Enzyme.
Setelah pelatihan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Program Pojok TOGA melalui penyerahan bibit tanaman secara simbolis kepada Pemerintah Desa Gendong Kulon. Penyerahan tersebut menjadi simbol komitmen bersama antara mahasiswa dan pemerintah desa dalam mengembangkan kawasan tanaman obat keluarga yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Tim MMD bersama perangkat desa dan warga kemudian melakukan penanaman berbagai jenis tanaman obat keluarga di area sekitar Kantor Desa Gendong Kulon. Selain tanaman TOGA, turut ditanam bibit pucuk merah dan sukun yang merupakan dukungan dari UB Forest. Penanaman ini diharapkan mampu mengoptimalkan lahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan menjadi ruang hijau yang produktif sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Penanggung jawab Program Pojok TOGA, Muhammad Badris Salam, mengatakan bahwa kolaborasi ketiga program tersebut merupakan bentuk pendekatan yang dilakukan mahasiswa agar masyarakat tidak hanya menerima materi, tetapi juga dapat langsung mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh.
“Kami ingin menghadirkan program yang manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Karena itu, kami menggabungkan edukasi mengenai tanaman obat keluarga dengan pelatihan pengolahan limbah organik serta penanaman langsung melalui Pojok TOGA. Harapannya masyarakat tidak hanya mengetahui manfaat tanaman obat, tetapi juga terdorong untuk mulai menanamnya di pekarangan rumah dan mengelola limbah organik menjadi Eco Enzyme yang bermanfaat,” ujarnya
Menurut Muhammad, keberadaan Pojok TOGA diharapkan dapat menjadi ruang belajar yang terus dimanfaatkan masyarakat setelah kegiatan MMD selesai. Ia menilai bahwa tanaman obat keluarga memiliki manfaat yang sangat luas, tidak hanya sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan kesehatan keluarga, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi apabila dikelola secara berkelanjutan.
“Kami berharap Pojok TOGA ini menjadi awal terbentuknya kebiasaan baru di masyarakat. Ketika masyarakat mulai memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman obat dan mampu mengolah limbah organik secara mandiri, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu keluarga, tetapi juga oleh lingkungan desa secara keseluruhan. Program ini memang sederhana, tetapi jika terus dijaga dan dikembangkan bersama, manfaatnya akan berlangsung dalam jangka panjang,” katanya.
Ia juga mengapresiasi antusiasme masyarakat Desa Gendong Kulon yang aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Menurutnya, semangat warga dalam berdiskusi, bertanya, hingga terlibat langsung dalam penanaman bibit menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan dan kelestarian lingkungan.
“Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Kami berharap apa yang telah dimulai hari ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat terus dirawat dan dikembangkan oleh masyarakat. Dengan begitu, Desa Gendong Kulon dapat menjadi contoh desa yang memanfaatkan potensi lokal untuk menciptakan lingkungan yang lebih hijau, sehat, produktif, dan berkelanjutan,” tutupnya.
Melalui kolaborasi Program Pojok TOGA, KASIH TOGA, dan pelatihan Eco Enzyme, Kelompok 54 MMD UB berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pemanfaatan tanaman obat keluarga, pengelolaan limbah organik yang ramah lingkungan, serta penghijauan kawasan desa. Program ini menjadi salah satu wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal sekaligus mendukung terciptanya pembangunan desa yang berkelanjutan.


